Selamat Ulang Tahun Ke 112 Kota Malang
Selamat Ulang Tahun Ke 112 Kota Malang
Malang, 10/04/2026
Banyak orang mengatakan Malang jadi panas ya sekarang, beda dengan beberapa tahun yang lalu.
Tidak begitu, sebenarnya. Malang masih sangat dingin, pada saat-saat tertentu, bagi mereka yang tidak tinggal di Kota Apel ini.
Coba saja keluar di tengah malam, Kota yang berusia 1+1=2 atau 112 tahun itu akan menunjukkan berapa masih dinginnya kota tempat disemayamkan nya Nayagenggong, bukan Sabda Palon, penasihat Brawijaya V yang memutuskan masuk Islam mengikuti Sang Amorwa Bhumi Wiladatika. Brawijaya memutuskan masuk Islam setelah putra nya Brandal Lokajaya memberikan pemahaman apakah Islam itu.
Sudah ada Trans Jatim Bagi Yang mau jalan-jalan sampai ke Kota Batu (Dari depan Stasiun Kereta Kota Malang)
Akan tetapi Sabdo Palon yang tidak mengikuti Sang Brawijaya kemudian dikunci di Gunung Srandil Jawa Tengah, untuk melihat bagaimana kemudian Majapahit yang bukan Islam itu runtuh dan berubah menjadi Demak di bawah putra Sang Brawijaya, Raden Fattah.
"Sang Prabu Brawijaya, Majapahit akan runtuh, jika Sang Prabu Brawijaya masuk Islam.. karena sendi negara ini bukan lah Islam... " Kata Sabdo Palon memberikan nasihat.
Tapi nasihat Sabdo Palon hanya benar setengah, karena kemudian Majapahit diteruskan oleh Demak, yang Sultannya adalah putra Sang Prabu Brawijaya sendiri.
"Lha saya kan juga putra Ayah Brawijaya... " Kata Brandal Lokajaya.
Brawijaya tersentak, tapi sebuah tanda kecil di tubuh Raden Mas Sahid mengingatkan Brawijaya pada saat Bupati Tuhan menerima titah untuk melindungi putra Mahkota Raja Brawijaya.
***
Meski fragmen cerita rakyat tentang kisah yang sudah 700 tahun lebih itu berlalu, tapi Malangkucecwara semboyan dari masa itu masih ada di Kota Malang sampai saat ini.
Malangkucecwara maksudnya yang Haq akan menghapuskan Kebatilan. Malangkucecwara, maksudnya bukan Mbois tapi Kejahatan akan terhapus dari muka Bumi, dimulai dari kota Malang.
APBD Kota Malang ada di kisaran 2,4 Trilyun pada tahun 2026, tak sebesar Kabupaten Bojonegoro yang punya 9 Trilyun atau Kabupaten Sidoarjo yang bertahan di 7 Trilyun.
Tapi Kota Malang tampak jauh lebih metropolis dari Kabupaten Bojonegoro misalnya, atau bahkan Kabupaten Sidoarjo. Lebih seperti Kota Surabaya. Tapi dengan APBD mendekati 13 Trilyun Surabaya memang pantas tampil seperti Metropolitan.
Bandingkan dengan Jakarta yang punya APBD 81,34 Trilyun, sebelum malah 91,34 Trilyun (2025). Tapi DKI Jakarta adalah level Provinsi, tapi dibandingkan dengan APBD Provinsi Jawa Timur yang hanya 29,25 Trilyun, Jawa Timur sendiri masih kalah jauh dari APBD DKI Jakarta. Jika perhitungan pembagian dibuat sama untuk 5 kota administrasi dan 1 kabupaten administrasi, maka masing-masing kota dan kabupaten di bawah DKI Jakarta masih punya angka uang di 16 Trilyun lebih, masing masing masih jauh lebih besar dari Kota Surabaya.
Akan tetapi dengan APBD 2,4 Trilyun saja Kota Malang sudah tampil lumayan rapih, meski Silpa juga masih ada di kisaran 200 Milyar-an rupiah. Tapi tak seperti Kabupaten Bojonegoro yang Silpa nya mencapai 3 Trilyun bahkan mungkin sudah menyentuh 4 Trilyun. Berikan Silpa Kota Bojonegoro ke Kota Malang, maka mungkin Malang akan menjadi dua kali lipat mboisnya dari saat ini.
Dengan APBD hanya 2,4 Trilyun Kota Malang bisa memiliki Gedung DPRD yang cukup megah di depan Balai Kota yang tertata dengan bagus. Bojonegoro sudah memiliki Gedung Pemkab bertingkat yang bagus, tapi Kabupaten Sidoarjo dengan APBD sebesar itu memiliki Gedung DPRD yang meminjam bahasa gaya Malangan, tidak mbois sama sekali. Gedung DPRD Kabupaten Sidoarjo kenapa terlihat seperti Gedung Kuno begitu ya?
Stasiun Kereta api Kota Malang, sebagai salah satu pintu gerbang wisata kota Malang juga relatif berada di lokasi yang sangat memadai untuk menerima wisatawan. Bangunannya sudah sangat menyerap konsep metropolitan kota. Bandingkan dengan Stasiun Bojonegoro dan juga stasiun Sidoarjo, masih seperti stasiun Kereta eta 30 atau 40 tahun yang lalu, masih terlihat kuno.
Pak Walikota, Kursi di pinggir Gedung DPRD Timur jebol Pak...
Waduh Pak Wali, ganti yang bagus dan bersih Pak Tempat Sampah di Jalan Depan Stasiun Kota Pak
Data Statistik penduduk kota Malang dari BPS Kota Malang, masih menunjuk di angka 890 ribuan jiwa. Tidak cermat, bahkan penduduk kota Malang saat ini bisa ada di kisaran 1,5 juta orang bahkan mungkin sudah mencapai 2 juta penduduk. Mengherankan melihat cara BPS Kota Malang, menghitung jumlah penduduk tidak juga berubah dari tahun ke tahun. Masih menghitung dengan cara yang sama saat masa Orde Baru, menyedihkan.
Jumlah mahasiswa di Kota Malang saja bisa mencapai ratusan ribu, apalagi ditambah dengan jumlah penduduk asli kota Malang. Jumlah sudah pasti paling tidak dua kali lipat dari data yang dilansir oleh BPS Kota Malang. Kota semi metropolitan yang masih dikelola dengan pengelolaan gaya kampung.
Empat Perguruan tinggi di Malang saja pada awal tahun 2026 mengumumkan ada 45 ribuan mahasiswa baru. Belum lagi 50 an lebih PTS lain yang ada di kota Malang. Paling tidak setiap tahun ada 100 ribuan mahasiswa baru yang datang ke Kota Malang, selama belasan dan puluhan tahun. Bagaimana bisa penduduk kota Malang disampaikan oleh BPS Kota hanya ada di kisaran 800-900 ribu saja? Ini kan jumlah mahasiswa yang memasuki kota Malang dalam 10 tahun terakhir.
Siapa yang tahu di mana Jalan Garut di Kota Malang itu? Kalau Di Rembang malah nama Kepala Desa Gak terkenal jadi nama Jalan, kok bisa
Dalam usianya yang ke 1+1=2 atau 112 tahun, kota Malang lebih layak untuk berbenah. Memahami dengan baik bahwa Kota Malang telah berubah menjadi semi metropolis, bahkan sudah akan berubah menjadi Mega city, setelah Kota Batu dan wilayah Kabupaten Malang berubah menjadi kota-kota pusat pergerakan penduduk.
Sebuah pendekatan pengelolaan kota metropolis di benak para pengelola kota harus segera dijadikan acuan. Jika tidak maka ledakan jumlah penduduk ini tak akan mampu diatasi. Masih ingat tragedi Kanjuruhan yang menyedihkan beberapa waktu yang lalu? Meski terjadi di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, akan tetapi korban nya adalah warga Kota Malang dan team Arema Kota Malang.
Sampai saat Informatika News menyusuri Kota di April 2026, coretan umpatan kemarahan di Stadion Gajayana Kota Malang masih terlihat jelas.
"Gusti Allah mboten sare......" kata salah satu coretan besar itu di salah satu dinding Stadion Gajayana Kota Malang.
Sejumlah tulisan berani lainnya, menantang para pengelola negara yang dianggap tidak becus menangani tragedi pelanggaran HAM Kanjuruhan Kota Malang.
Sebuah kota Metropolis harus dikelola dengan pendekatan yang berbeda. Selamat Hari Ulang Tahun Yang ke 1+1=2 atau yang ke 112 Tahun Kota Malang. Segera bangun dari tidur panjang mu. Rakyat menunggu mu bangkit untuk menata kehidupan mereka yang lebih baik, lebih sejahtera.
MIG








Komentar
Posting Komentar