Pilkada Gubernur Jawa Timur, Ketika Partai Demokrat Menguasai Panggung Eksekutif Jawa Timur

 

Pilkada Gubernur Jawa Timur, Ketika Partai Demokrat Menguasai Panggung Eksekutif Jawa Timur

Kemenangan Pilkada Gubernur Jawa Timur sejak tahun 2008 selalu membawa bendera Partai Demokrat. Pilkada Gubernur pertama di Jawa Timur tahun 2008 yang menggunakan suara rakyat secara langsung di Jawa Timur ini menggantikan sistem Pemilihan Gubernur yang ditentukan lewat pemungutan suara di DPRD Provinsi.

Pada Pilkada langsung tahun 2008 pasangan calon Gubernur/Wagub Soekarwo dan Saifullah Yusuf mendapatkan dukungan dari Partai Demokrat. Pasangan ini memenangkan Pilkada 2008. Kemenangan ini diulangi pada tahun 2013, dengan skema dukungan dari Partai Demokrat.

Pada Pilkada tahun 2018 kekuatan Partai Denokrat ini terlihat dengan lebih jelas, saat pasangan Khofifah maju dengan menggunakan mesin Partai Demokrat. Kekuatan mesin partai ini terlihat dari tersingkirnya Saifullah Yusuf yang sebelumnya selama 10 tahun didukung oleh Partai Demokrat menyeberang ke Partai PDI Perjuangan dan bergabung dengan Puti Maharani dari PDIP. Saat Saifullah Yusuf tidak didukung oleh Partai Denokrat, saat itu Saifullah Yusuf gagal. Jejak 10 tahun di Provinsi Jawa Timur terhapus begitu saja tak berbekas.

Sebaliknya, Khofifah yang belajar dari dua kali kekalahannya dengan menggunakan mesin Partai PPP dan PKB, memahami kekuatan Partai Denokrat Jawa Timur ini. Dan dalam dua kali Pilkada langsung 2018 dan 2024 yang terakhir Khofifah konsisten tak berpindah lagi dari Partai Denokrat.

Khofifah adalah termasuk salah satu calon kuat yang bertahan dalam 4 kali Pillada Langsung di Jawa Timur. Pada tahun 2008 Pilkada Jawa Timur terpaksa dilaksanakan dua putaran. Dan dalam putaran kedua calon dari Partai Demokrat kembali mengkanvaskan Khofifah dengan telak.

Jadi bertanding melawan Partai Demokrat bukan hanya dua kali akan tetapi 3 kali, dan selalu dalam kondisi kalah telak.

Akan tetapi pada awal Pilkada 2013 Khofifah sempat berhasil memenangkan upaya politik menghambat pendaftaran nya sebagai calon peserta Pilkada 2013. Meski pun berhasil memenangkan berhasil masuk mendaftar, realitasnya Khofifah juga tetap kalah dalam Pilkada 2013 tersebut.

Dari sisi partai terlihat sebuah fenomena yang mencatat kekuatan Partai Demokrat versus Partai yang lain.


1993 : Basofi Sudirman (Orde Baru)

1998 : Imam Oetomo-Imam Sukardi (Awal Reformasi) - 21 Mei/23 Agustus

2003 : Imam Oetomo-Soenaryo : PDIP (Belum Pilkada Langsung) 

2008 Pakdhe Karwo - Saifullah Yusuf
2013 Pakdhe Karwo - Saifullah Yusuf
2018 Khofifah - Emil Dardak
2024 Khofifah - Emil Dardak


 

PDIP dan PKB adalah partai yang konsisten melawan Partai Demokrat selama 4 Pilkada dan gagal total mengalahkan Partai Demokrat dalam Pilkada Gubernur/Cagub Jawa Timur.

Bahkan pada saat Pilkada 2018 saat kedua partai ini berkoalisi juga tak mampu mengalahkan Partai Demokrat pada Pilkada Gubernur.

Partai Golkar dan PPP menjadi partai yang faham kekuatan Partai Demokrat setelah mereka kalah pada Pilkada 2008. Kedua partai ini kemudian memutuskan untuk tetap berkoalisi dengan Partai Demokrat pada 3 Pilkada berikutnya secara berturut-turut. Strategi cerdas.

Yang lucu adalah Partai Gerindra dan PKS. Dua partai ini pernah menjadi koalisi Partai Demokrat pada Pilkada 2013 akan tetapi mencoba menghadang dengan koalisi dengan PKB dan PDIP pada Pilkada 2018, dan kalah dari Partai Demokrat. Pada Pilkada 2024 kedua partai ini kembali bergabung ke koalisi bersama Partai Demokrat.

Secara berturut-turut selama 4 kali Pilkada koalisi bersama Partai Demokrat tidak bisa dikalahkan oleh rival yang tak mau menyerah PDIP dan PKB. Dan bahkan partai lain yang mencoba menyeberang melawan koalisi Partai Demokrat Berakhir sama saja. Kalah telak.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Equestrian Ramadhan Cup 2026 Di Arena Berkuda Yussar Stable

Saat Rasulullah Memberikan Analisis Pada Doa Nabi Luth